Debat Terakhir Pilwalkot Depok Lebih Berbobot, Tetapi Minim Argumentasi Siaran Pers Tim Panelis Debat Kandidat Calon Walikota dan Wakil Walikota Depok Ketiga di TVOne 4 Desember 2020

Kami tim panelis mengapresiasi pelaksanaan debat ketiga pasangan calon (paslon) Pilkada Depok di TVOne pada 4 Desember 2020 yang sudah lebih mengarah sebagai sebuah perdebatan, ketimbang dua debat terbuka sebelumnya.

Tetapi, kami panelis juga menyayangkan debat itu belum menjadi sebuah pertukaran pendapat mengenai suatu masalah dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Debat kurang berkembang menjadi kampanye untuk menyampaikan visi, misi, dan program paslon untuk memberikan informasi kepada masyarakat agar dapat mengetahui sedalam apa paslon memahami suatu persoalan di Depok.

Otomatis jika paslon 1 berkali menyatakan program yangg disebut pembaharuan, maka tidak tergambarkan bagaimana dan apa solusi/program kerja yang mereka tawarkan serta dengan gagah disebut sebagai pendekatan baru. Demikian juga paslon no.2 gagal merinci apa yang sudah dilakukan dan akan dilakukan agar memperkuat pernyataan pencapaian dengan segala piala dan award yang diperoleh. Yang terjadi hanya pamer piala, penghargaan saja yang tentu saja ini tidak cukup karena tetap perlu menjelaskan apa yang akan dilakukan sehingga segala piala, penghargaan itu bukan klise tetapi benar pencapaian yang bisa dibuat lebih baik lagi di periode berikut jika terpilih.

Dalam situasi itu ironisnya paslon 1 malah memanfaatkan pertanyaan tim perumus yang dimulai dengan uraian data sebagai pembenaran masalah yang kurang mampu dirumuskan mereka. Sementara, paslon 2 melihat pertanyaan dengan uraian data pertanyaan dari panelis tidak valid dan meragukan. Bahkan para panelis dianggap “kurang jalan-jalan” melihat perubahan dan perkembangan Depok.

Perlu kami ingatkan bahwa pertanyaan yang dibuat hanya sebagai katalisator untuk menjawab, bukan dalam kontek membenarkan atau menyalahkan data tim perumus. Tim perumus terikat kode etik dan pakta integritas. Setiap pertanyaan yang dibuat panelis diturunkan dari tematik yang dipesankan KPU kemudian direfleksikan dalam masalah-masalah di Depok. Selanjutnya dikategorisasikan berdasarkan data/fakta yang diuji dalam forum verifikasi untuk selanjutnya ditulis sebagai latar belakang sebelum dibuat pertanyaan.

Demikian panelis berharap debat bentul-betul dapat menjadi forum menguji sejauh mana autentisitas pemahaman dan kedalaman pasangan calon terkait isu-isu penting dan kondisi faktual dari setiap tema perdebatan. Kompleksitas masalah terarahkan melalui pertanyaan dengan harapan bisa mendengarkan solusi yang holistik dan integratif, sinergis, holistik. Tetapi, akhirnya hal ini tidak tercapai. Sebagai contoh panelis ingin mendengarkan solusi yg holistik dan bersinergi dengan daerah sekitar (terutama Jakarta, Bogor dan Bekasi) adalah masalah sampah. Sayang kandidat hanya menjawab dengan retorika kosong hafalan berapa ton sampah di Depok dan paham masalah TPA Nambo karena anggota DPRD Provinsi Jabar.

Ketika menjawab pertanyaan pembangunan Depok yang Margonda sentris dan situasi sungai serta situ malah dibalas dengan ajakan agar panelis turun lapangan. Padahal pertanyaan dibuat fokus untuk menegaskan bahwa situ yang dekat dengan kantor walikota tercemar yaitu Situ Rawa Besar, tetapi dijawab dengan menyarankan panelis jalan-jalan di Depok yang sudah banyak perubahan. Padahal jika membuka google dan menaruh kata kunci “Situ Rawa Besar, pencemaran, 2020” akan bertemu pada Agustus 2020 berita-berita pencemaran di situ tersebut. Pendek kata, pertanyaan ini bukannya dijawab dengan yang diharapkan dan ditunggu-tunggu, yaitu program apa yang ditawarkan, reformulasi kebijakan, dan koordinasi dengan pembangunan pusat dan bagaimana politik anggaran dalam APBD.

Pembahasan kesehatan dan fasilitas kesehatan dijawab dengan Penggunaan KTP multiuser dan kartu Depok sehat. Benar bahwa program tersebut baik, tetapi panelis juga dalam pertanyaan mengejar jawaban bagaimana kompetisi puskesmas dan RSUD ketika berhadapan dengan klinik dan RS Swasta yang semakin banyak di Depok.

Akhirnya para panelis ingin menyampaikan apresiasi kepada KPUD Depok yang telah mempercayai kami sebagai tim perumus. Kami telah berupaya menunaikan pesan KPUD agar membantu membuat debat paslon Pilkada Depok 2020 ini menjadi ruang melihat aspek orisinalitas masing-masing paslon, melihat respon natural paslon dalam menghadapi peristiwa tidak terduga. Semoga para pemilih melalui debat tersebut dapat menangkap apakah para paslon masih mampu bersikap substantif, sistematis, dan tepat sasaran. Bisa membaca konsep, komitmen, dan keberpihakan mereka atas suatu isu dalam debat yang spontan.

Siapa pun yang unggul kelak dalam perhitungan akhir suara, harapan kami yang terpilih harus menjadikan Depok jauh lebih baik dan berpihak kepada semua warganya.

Depok, 06 Desember 2020

Hormat kami

Tim Panelis Debat Kandidat Calon Walikota dan Wakil Walikota Depok 2020

  1. Ferry Kurnia Rizkyansyah
  2. Hermanto Siregar
  3. JJ Rizal
  4. Reni Suwarso
  5. Sukwanto Gamalyono